Jumat, 02 Januari 2009

Beberapa Cerpen Irvan Mulyadie

IBU
Lyrik : Irvan Mulyadie

Manusia yang pertama kali menyerahkan jiwanya padaku, sungguh dia adalah ibuku. Perempuan hamil yang pada empat bulan purnama mengidamkan rembulan itu larut pada segelas air tawar yang diembunkan saban malam. Lalu ketika pagi mengetuk salam, dengan cemas ia mengharap cahaya silau keemasan meninggalkan sepoles jejak di dalamnya.

Air itu begitu bening, katanya, dan sejuk.

Maka ketika satu demi satu tegukan ringan mengaliri kerongkongan ia pun akan merasakan; rembulan itu merobah diri jadi selembar dedaun kering yang terjatuh di pucuk musim. Warnanya merah lembayung dengan aroma menyeruak daripadanya seharum kuntum bunga kecubung.

Pada purnama ke tujuh, ia pun mandi bersama tujuh nama bunga dalam tujuh warna puspa serta berbagi rujak cuka yang isinya tujuh umbian pula. Seperti dongeng di masalalu, saat Sumbi merobah diri jadi taman di kahyangan ketika lari dari kejaran Sangkuriang, anaknya. Betapapun ia adalah cinta yang maha dalam.

Betapa ringan waktu berlalu. Hanya kibas ekornya saja yang terlihat melambai-lambai dan menjauh. Hari yang pucat. Setahun ke depan Gunung Galunggung yang meletus menandai penyambutan ulang tahunku. Melukiskan angka satu pada kening dan usiaku. Tapi ibu sudah mulai melupakan rasa sakitnya itu setelah habis sembilan bulan memberi ruang pertumbuhan yang sangat hangat bagi tubuhku yang masih rapuh.

Begitu fasih ia bernyanyi menyenandungkan belaiannya pada usap demi usapan belaian kasih di kepalaku. Tangan yang lembut. Shalawatnya bagus. Dan susunya yang berputing kecoklatan betapa kenyal bila tergigit oleh mulutku yang belum rapi punya gigi.

Sangat geli, desahnya, tapi ikhlas.

Ya, sebenarnya aku tak pernah bisa mengingat lagi peristiwa yang demikian. Hanya masih merasakan kedamaian bila hadir disampingnya. Membayangkan ibu tersenyum kepadaku walau hatinya sarat derita. Bahkan menangis saban hari meski tak pernah menampakan airmata penanda duka. Dan aku hanya tahu dari kerling variasi tatap matanya. Yang senyap !

Seperti juga hari ini saat kutabur kembang rampai tujuh rupa di atas gunduk tanah kuburnya. Pusara itu telah berlumut. Nama yang akrab semasa ia masih hidup sudah mulai regas memudar. Tapi ia masih sempat memberi senyum dalam kenangan…..

Cinehel-Tasikmalaya, 22 April 2007


Nonton TV
Karya: Irvan Mulyadie

Di hadapan televisi yang sedang menyiarkan film box office dengan cerita tentang betapa pentingnya kecantikan yang tahan lama bagi seorang perempuan, aku merokok banyak sekali. Ya, aku penikmat rokok tulen. Jarang kupedulikan peringatan yang selalu tertulis jelas di setiap bungkus luarnya dengan nada mengancam yang sinis tapi juga munafik. Seharusnya, menurutku, kalau memang ini penting bagi kehidupan warga negara kenapa hanya peringatan dan bukan larangan saja. Betul, kan?

Dan malam ini ada yang aneh. Batang terakhir yang kupitaskan tadi, setelah aku kembali dari kamar kecil untuk kencing, tiba-tiba rokok yang telah hancur dalam asbak itu telah utuh kembali seperti baru saja kunyalakan. Asapnya harum mengepul dengan aroma yang khas tembakau lokal. Tentu saja aku terkejut !

Aku sangat berpikir keras untuk hal yang satu ini. Dan terus mengingat-ingat. Malam kian larut dan sepi. Orang-orang yang ada di rumahku sudah lelap dibuai mimpinya masing-masing. Tak terasa, bulu kuduku mulai berdiri. Dadaku mulai sesak dan berdegup kencang. Keringat dingin mulai membasahi telapak tangan dan jidatku. Apa di rumah ini ada hantunya? Tidak ! Akal sehatku masih bisa jalan dengan normal. Ya, meskipun aku tidak dapat mengingat jelas akan apa yang terjadi pada beberapa menit yang telah lalu. Benar-benar lupa sama sekali.

Ah, atau mungkin aku memang lupa pernah memitaskan rokok terakhir ?

Tasik-Nagkid


KATA
Oleh: Irvan Mulyadie

Perkenalkan, saya Kata. Saya bukanlah seseorang atau pun benda yang pernah anda kenal seperti anda kira sebelumnya. Tapi juga tidak seasing yang dibayangkan. Saya hanya hurup-hurup yang mencoba menyusun diri jadi kalimat sebagai lambang bahasa jiwa. Untuk bercakap-cakap tentang hal penting atau ngobrol yang tak pernah ada artinya. Juga ngerumpikan persoalan antara yang penting dan tidak penting itu pun bisa. Jadi, bicaralah dengan saya!

Saya, Kata. Sesuatu yang bisa membawa anda pada banyak pertanyaan sekaligus memiliki jawabannya meski belum tentu tepat. Tidak apa. Sebab pada kenyataannya tak pernah ada pertanyaan yang sangat mutlak harus dijawab. Jadi untuk sementara jangan peroalkan masalah ini. Apalagi tanya jawab.

Kata, itulah saya. Anda bisa membacanya dengan tepat. K-A-T-A. Mudah bukan?

Kenapa saya bernama Kata, tak pernah persis saya tahu awal mulanya. Bahkan ketika saya dianggap sebagai ‘biang kerok kejahatan’ atau pun dianggap sebagai ‘bidan kebaikan’. Saya akrab dengan dunia hitam sekaligus bersaudara dengan dunia serba benderang. Tapi saya sangat netral. Tidak berbentuk, tapi anda boleh memberi tekstur apa saja terhadap diri saya. Tanpa warna, anda boleh memoles saya dengan warna apapun juga. Entah itu yang sesuai komposisi warna pelangi, dengan jenis warna kulit sebuah ras atau warna sebuah faham dan ideologi. Bebas. Semprotkan ragam aroma. Lenturkan gerakan saya dengan lidah dan fikiran anda. Dan abadikanlah saya dengan kenangan, sejarah, dan omong kosong dalam tulisan anda. Saya menyerah.

Saya, Kata. Hanya Kata. Tapi yang lain membunuh saya dengan pelor kata-kata. Anda juga yang membaca tulisan ini, pasti pernah membunuh saya dengan cara apa pun juga. Dengan sadar atau hanya kebetulan. Tapi harus anda yakini. Bahwa saya akan terus hidup dan tumbuh kembali. Meski hanya dalam secuil makna isyarat: kesunyian!.

Tasikmalaya, Oktober 2007


TEROR KOMPOR
Cerpen: Irvan Mulyadie

Sudah sejak lima minggu yang lalu, tak ada lagi asap hitam mengepul tebal menyesaki langit Kampung Gunung Hareueus yang terletak di pinggiran Tasikmalaya. Biasanya, paling tidak tiga hari sekali pabrik kompor milik Mak Nini membakar drum-drum bekas untuk menghilangkan sisa-sisa aspal yang melekat. Drum-drum tersebut dibelinya dari para pemborong jalan. Nah, karena semua itu menjadikan cakrawala begitu bening tak ternoda. Bahkan ketukan palu yang selalu nyaring terdengar memukul-mukul kaleng di atas penampang besi bekas rel kereta api pun sudah jarang lagi terdengar.

Ya, pabrik kompor sangat sederhana yang merangkap rumah tinggal milik Mak Nini itu kini terancam gulung tikar. Di rumahnya teronggok begitu banyak barang jadi dan setengah jadi yang ditinggalkan para pemesannya. Mereka tak mau ambil resiko dagangannya tak laku akibat adanya kebijakan pemerintah yang mengeluarkan program konversi dari penggunaan minyak tanah ke gas.

Di depan hasil karya tangannya, nampak Mak Nini yang berusia yang hampir menjelang 63 itu sedang termenung menatap kosong tumpukan barang dengan gurat kesedihan yang cukup dalam menghiasi keriput wajahnya. Namun kapalan tangannya mulai menipis karena tak ada aktivitas mengayaunkan palu yang berat lagi.

“Kenapa nasinya tak dimakan, Mak?” Tanya Ai, cucu perempuan satu-satunya.

Mak Nini tak bergeming. Bukannya ia tidak mendengar sapaan lembut bernada kasihan itu. Melainkan ia sedang tak ingin saja menjawabnya. Ia kini sudah terbiasa mendengar suara belas kasih dari orang-orang di sekitarnya. Bahkan yang keluar dari mulut usil tetangganya yang dulunya sering protes karena sering merasa terganggu dengan pukulan kaleng di siang-siang bolong, Bu Songong.

***

Sementara di ruangan bale desa, terdapat banyak ketua RT yang sibuk menyerahkan data-data penduduk calon penerima bantuan langsung kompor gas yang lengkap dengan tabungnya. Tapi wajah-wajah mereka tak menampakan kegembiraan apabila dibandingkan dengan ketika mereka mengurusi bantuan Raskin. Karena setidaknya mereka mendapatkan keuntungan dari para penerima Raskin dengan menaikan harga beras per-Kg sedikit lebih tinggi dari harga yang telah ditentukan pemerintah. Atau mungkin mereka belum mendapatkan celah saja.

Dari sekian banyak keluarga, hanya Mak Nini saja yang tak terdaftar dalam data tersebut. Mak Nini bersikukuh dengan pendiriannya. Mak Nini tidak mau menerima uluran tangan pemerintah ketika Pak RT bertandang ke rumahnya untuk mengkonfirmasikan peluangnya mendapatkan bantuan kompor dan tabung gas. Bagaimanapun, Mak Nini adalah keluarga yang berada di bawah garis kemiskinan. Penghasilannya yang tidak menentu ditambah dengan modal usahanya yang kini mulai habis terkuras untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari kian membuatnya semakin terpuruk. Ia bertekad untuk setia menggunakan kompor minyak tanah buah karyanya sendiri daripada menggunakan kompor gas yang akan membuat hatinya semakin sakit. Meskipun minyak tanah itu harganya tak lagi terjangkau. Atau ia akan menggunakan kayu bakar saja. Banyak ranting-ranting kering dari bukit di sebelah rumahnya yang bisa ia manfaatkan. Ya, walau bukit yang dimaksudnya adalah bukit yang sedang diperkosa oleh alat-alat berat pengeruk pasir. Mak Nini protes !

***

Pada suatu hari yang telah ditentukan, warga Kampung Gunung Hareueus menerima bantuan itu. Ada semacam perasaan yang mengambang diantara mereka; ketika harus membayangkan bahwa hari-hari yang telah mereka lalui dengan kompor minyak tanah dalam pemenuhan kebutuhan sehari-harinya hanya akan tinggal kenangan. Lalu hendak dikemanakan bekas kompor minyak tanah mereka? Dibuang, terlalu sayang. Disimpan juga kalau lama tak digunakan rusak juga pada akhirnya. Dijual ke tukang rongsokan pun takan seberapa harganya.

Beberapa minggu telah berlalu. Tapi kini masyarakat sudah mulai terbiasa menggunakan kompor berbahan bakar gas. Waktu memasak kian cepat. Tingkat kehematan kompor gas pun kian teruji. Dan murah lagi. Hanya saja bagi sebagian orang yang sudah terlanjur jatuh cinta dalam menggunakan kompor minyak tanah, sulit juga mengumpulkan uang guna membeli refill gas. Itu karena mereka terbiasa mengecer minyak tanah yang sekarang sudah dicabut subsidinya.

Namun kabar buruk menghebohkan itu segera menyebar ke seantero negeri. Beberapa pengguna kompor gas yang teledor telah membuat suasana tenang menjadi penuh teror. Bukan teror dari luar, tapi teror dari dapur rumah masing-masing masyarakat yang telah mendengar banyak ledakan terjadi akibat rendahnya kualitas kompor gas yang diberikan oleh pemerintah. Media massa kebanjiran berita dengan munculnya isu baru pengadaan barang kompor gas yang terkesan ilegal. Kritikan pedas yang sudah sejak awal dilayangkan untuk pemerintah pusat dengan adanya konversi minyak tanah ke gas, kini semakin panas saja.

Di kampung Mak Nini pun demikian. Gara-gara kompor gasnya tak berkatup pengaman, rumah Bu Songong terbakar hebat. Habis. Untung saja tidak ada korban jiwa.

”Saya akan memasak sayur lodeh. Tapi ketika menyalakan kompor gas, tiba-tiba
api berkobar begitu saja.” Lirih Bu Songong saat dikonfirmasi oleh sejumlah
wartawan lokal. Ia lemah terbaring di RSU dengan sekujur tubuhnya yang luka bakar.

Tak hanya Bu Songong, beberapa orang dari tetangga kampung pun mengalami hal serupa. Kini mereka mempersoalkan lagi kebijakan itu. Mereka diliputi ketakutan dalam menggunakan kompor gratisnya. Dan pada saat-saat demikian, Warga mulai mengingat lagi jasa Mak Nini. Bahkan mereka merasa berdosa karena telah meninggalkan begitu saja kompor-kompor minyak tanah yang sebagian besar buah karya dari Mak Nini.

***
Mak Nini telah melihat dan mendengar semua kejadian itu dengan hati yang kaku. Ada perasaan asing yang kini hinggap di hatinya. Sedikit pun juga ia tak sedih atas kebakaran yang dahsyat. Tapi ia pun tak merasakan kebahagiaan. Harga minyak tanah masih tinggi. Dengan perlahan namun pasti, onggokan kompor yang tadinya bertumpuk dalam pabriknya kini tinggal beberapa buah saja.

”Makan dulu, Cu. Biarkan saja bon-bon itu.”
”Ya, Mak. Sebentar lagi.”
”Oya, tadi pak RT bilang mau mengambil kompor yang dulu pernah dipesennya.
Nanti kalau kamu sudah makan antarkan itu, ya.”

Ai hanya tersenyum dengan terus menulis di buku tebal yang sudah kumal. Sekarang ia sedikit lega, karena Mak Nininya sudah tak sering lagi melamun. Bahkan wajahnya sudah secerah dulu ketika kompornya laris kembali. Dan besok, drum-drum bekas aspal proyek jalan akan kembali mereka bakar. Tapi untuk kali ini, Bu Songong tak bakal ngomong.

Mangunreja, 9 April 2008
(Cerpen Teror Kompor ini dimuat di Harian Radar Tasikmalaya, 2 Agustus 2009)



Tahun Kabisat
Cerpen: Irvan Mulyadie

Apa yang membuat Febry merasakan banyak hal luar biasa terjadi dalam hidupnya di awal tahun 2008 ini?
Jawabannya cukup unik; sebab sekarang adalah tahun kabisat. Lho?!

Tak seperti hari-hari kemarin, kali ini wajah gadis yang bernama lengkap Febryani Syachrial itu nampak lebih cerah dari biasanya. Senyum manis kerap ia lemparkan kepada siapa saja yang dijumpai. Bahkan senandung kecil pertanda bahagia belakangan sering terdengar mengisi ruang-ruang lengang di rumah type 36 pada kawasan Perumahan Kembang Mekar itu.
“Febry, cepat habiskan sarapannya. Ayah menunggumu di luar !”
Seru ibu dari dapur. Suaranya yang cempreng kadang terdengar sangat lucu sekali. Sementara Febry yang memang sudah dari tadi selesai makannya nampak hanya senyum kecil. Dan mengedipkan sebelah matanya ke arah saudara kandung satu-satunya. Amir pun faham maksud kakaknya. Dan ia balas melempar senyum sambil menunjuk ke dagu imut Febry yang berhias sebutir nasi kuning.
***
Di sekolah, Febry seperti orang asing mendapatkan tempat yang asing pula. Ia baru menyadari bahwa ada banyak hal yang luput dari perhatiannya dan tidak pernah terpikirkan sebelumnya pada dua tahun belakangan ini. Seperti tentang situasi sekolahnya yang agak sempit di SMP Tunas Bunga. Tentang tong sampah dengan aneka warna yang mencolok dan bergambar tokoh-tokoh kartun, misalnya. Lebih kelihatan hidup dan bermakna sekarang.

Apalagi di tahun 2008 ini pula merupakan semester final bagi sejarah pendidikannya yang tinggal menunggu waktu menuju Ujian Akhir Nasional. Tinggal di kelas tiga A merupakan kebanggaan tersendiri bagi setiap murid di SMP Tunas Bunga. Dan ia sendiri cukup berprestasi hingga bisa berada di lingkungan murid-murid yang berkompeten dalam pelajaran itu.
”Kok bengong aja, Neng. Bukannya bel masuk sebentar lagi?”
Suara Pak Sukron guru Biologinya membuyarkan lamunan Febry yang masih asyik termangu di hadapan taman sekolah yang mungil.
”Euu....iya, Pak. Saya ...” Febry gelagapan.
”Sudah masuk sana. Dan tolong bawakan map ini ke kelas. Bapak mau ke toilet dulu......”

Di kelas, tak seperti biasanya Febry senyum-senyum sendiri. Dan sedikit jadi pendiam. Tentu saja hal tersebut membuat kawan-kawannya agak heran. Bahkan ada yang curiga kalau Febry sudah kerasukan roh-roh gaib seperti pada kasus kerasukan masal minggu lalu yang menimpa murid-murid. Konon gara-garanya pihak sekolah merenovasi bangunan peninggalan zaman belanda untuk dijadikan kelas baru tanpa ritual khusus sebelumnya.

Memang, selain pintar Febry dikenal oleh kawan-kawannya sebagai seorang gadis yang penggembira dan cukup menghebohkan dengan cerita-cerita lucunya yang ia download dari internet. Namun hari ini ia seperti sosok yang dingin dengan sejuta misteri dalam dirinya. Dua mata pelajaran sudah kelar diberikan dengan tidak satu pun pelajaran yang masuk ke dalam kepalanya. Malah ia menyibukan diri dengan menulis cerita hidupnya di dalam buku hariannya :

Hai my diary, tolong jawab pertanyaanku, ya. Apa yang membuatku merasakan banyak hal luar biasa terjadi dalam hidup ini di awal tahun 2008 ? Gak tahu ? Hehe......8x.
Jawabannya adalah; sebab sekarang adalah tahun kabisat !

Kamu tahu kan, diary ? Aku ini lahir pada bulan Februari, makanya dinamai Febry. Dan tepatnya pada hari Sabtu 29 Februari 1992 yang merupakan tahun kabisat. Dan sekarang aku akan menginjak umur 16 Tahun, lho. Namun aku tidak pernah merayakan ulang tahun sesering teman-temanku yang merayakan ultahnnya setiap tahun. Dan sejak kelahiran itu, dalam kurun waktu dua dasawarsa ini, aku baru tiga kali merayakannya. Sebel banget.....!!!

Oya, diary. Aku cukup sedih manakala berfikir dan membayangkan bahwa takan pernah ada perayaan Sweet Seventeen dalam hidupku. Sebagai remaja, aku pun punya keinginan yang sama dengan mereka. Bahkan nyaris tak ada kegembiraan sedikit pun ketika aku menghadiri ulang tahun ke 17nya kakak sepupuku, Ririn Risnapajar. Dengan kue-kue tar yang menjulang tinggi. Didampingi pacarnya lagi. Romantis !

Ah, tapi gak apa-apa. Yang penting aku harus bisa mensyukuri nikmat ini. Meski perayaan ultahku tinggal dua hari lagi, tapi ayah sudah memberikan kado ultahku: Handphone type terbaru. Uh, asyiknya. Dan ayah berjanji saat perayaan ultahku nanti ia akan membawakan oleh-oleh dari Bali. Nanti sore ia akan berangkat dengan sekoper tugas dari perusahaannya.

Sudah dulu, ah. Waktunya istirahat. Aku mau bertemu dengan seorang cowo terganteng di bumi ini. Kamal baru dua minggu lalu nembak aku. Hihi...... Untung saja gak sampe mati. Aku pergi dulu ya......daaag !!!

Bel berbunyi sekali lagi. Murid-murid berhamburan meninggalkan kelas memburu kantin atau perpustakaan. Demikian juga dengan Febry yang akan menepati janjinya untuk sang kekasih.

***
Tanggal 29, tepatnya ketika para lelaki telah usai sholat jumat di mesjid-mesjid, rumah Febry nampak meriah. Dalam undangan pesta ulang tahun yang sudah disebarkan, perayaan akan dimulai jam 13.30 WIB. Kawan-kawan perempuan Febry yang perempuan sudah banyak yang hadir dan membantu mempersiapkan hidangan. Namun Febry sedikit kecewa karena ayahnya belum juga menampakan wajah. Padahal seharusnya jadwal kepulangan dari Bali itu tadi malam.

Ibu pun tak kalah cemas. Sudah berkali-kali ia menghubungi handphone suaminya. Dan hanya mendapat jawaban dari operator seluler yang menyatakan nomor tersebut di luar jangkauan. Atau sengaja saja suaminya berbuat seperti itu supaya memberi kejutan untuk Febry, pikir Ibu. Dan prasangka itu sedikit menenangkannya. Tapi sebagai serang istri yang sudah sekian lama berdampingan, di dalam lubuk hati yang paling dalam ibu tak bisa memupus kecemasannya.

Waktu peniupan lilin sudah tiba. Tapi ayah belum juga datang. Dengan sangat terpaksa acara pun berlangsung tanpa kehadiran sang ayah. Febry berdoa dalam hatinya sesaat sebelum lilin itu ditiup.
”Tuhanku, semoga di hari ini memberikan kesan begitu dalam untuk senantiasa kukenang seuumur hidup. Dan berilah akau kekuatan lahir bathin dalam menjalani kehidupan. Amin!”

Lilin berangka 16 telah padam bersamaan dengan kemeriahan tepuk tangan dan lagu-lagu bernada ceria, serta hembusan doa yang keluar dari mulut mungil seorang gadis yang akan segera menuju gerbang kedewasaan. Setahun saja lagi ia akan berhak terhadap hak pilihnya sebagai warga negara dalam pemilu. Atau setidaknya mendapatkan KTP.

Tapi pada saat itu juga telepon rumahnya berdering. Suatu kontak darurat dari pihak kepolisian yang mengabarkan tentang sebuah kecelekaan lalu lintas. Dan telah merenggut nyawa seorang ayah dari anaknya yang berulang tahun hari itu. Dengan kado rangkaian karangan bunga yang indah di samping kursi mobilnya. Ibu nampak terkulai pingsan di samping pesawat telepon yang masih tergenggam.

The End


Mata yang Menatapku
Cerpen: Irvan Mulyadie

Seseorang, menatapku dengan lembut. Sorot matanya bagaikan riak air kolam yang ditembus cahaya bulan ketika malam. Memancarkan gelombang tenang namun sangat menghanyutkan. Begitu ajaib. Tatap yang akrab. Aku masih mengenalnya.

Di malam ini, tatapannya selejat seduh teh manis hangat. Kami saling memandang di hadapan meja makan pada sebuah rumah kontrakan. Saling menggoda. Dan sepasang mata itu selalu saja membuatku takjub. Sama persis ketika aku mulai mengenal akan betapa berdebarnya menghadapi cinta pertama.

Dulu, aku tak pernah seserius ini memikirkan sampai detil hal-hal biasa yang berbau sentimentil. Akan tetapi sorot matanya selalu saja menawarkan hal yang lain. Selalu orsinil. Sungguh. Apalagi kali ini, begitu lembek dan sangat dalam. Selapis binar kecemasan terselip indah dalam gemalau harapannya yang memohon :

“Jangan tinggalkan aku”, katanya.

Dasar bodoh. Justeru aku yang akan terus mengulang-ulang mengatakan ucapan itu, kekasih !


SAJAK CINTA UNTUK GARNITA
cerpen: Irvan Mulyadie

Sungguh, tak ada yang lebih kuharapkan daripada besarnya rasa dan ketulusan dari kasihnya. Aku selalu menanti agar suatu saat itu benar-benar dating menghampiri. Tidak melulu dalam bayangan dan khayalan. Harus terjadi dan nyata. Ah, tapi akankah?

Begitulah Imul mengakhiri tulisannya di atas lembar kemerahan buku hariannya. Sebetulnya, itu bukanlah sebentuk buku . Melainkan sobekan kertas bungkus rokok yang disusun menyerupai buku.

Sudah dua minggu ini Imul selalu merindukan gadis mungil yang selalu menghiasi lamunannya. Bahkan saking kuatnya ia melamun, hampir saja sepedanya menabrak gerobak roda tukang cimol. Aneh memang, mengingat orang-orang di sekitar Imul mengetahui dengan baik, bahwa Imul adalah lelaki yang super cuek mengahadapi perempuan manapun juga. Secantik apapun gadis itu.

Ia dingin. Teramat dingin. Lebih dingin dari es serut di dalam cendol.

“Lho, kenapa mesti malu ? Bukankah perasaan itu mutlak milik individu ? Buat apa membohongi diri sendiri ? Kalau memang suka, jangan lagi ditutup-tutupi. Katakan saja ! Ini zaman reformasi, bung. Tak penting lagi soal status seseorang dalam hidup bermasyarakat. Apalagi ini masalah perasaan universal manusia. Cinta. Perasaan yang paling hakiki dan lebih penting dari hidup itu sendiri….” Kata Alend berdarah-darah menanggapi keluhan dari sahabatnya.

“Tapi lend,….ia masih ABG. Aku takut kalau aku mengatakannya ia akan langsung menjauh. Aku lebih cocok jadi abangnya, ketimbang…..”

“Ahk, bulsit itu. He dengar ya….!!! Cinta itu tak pernah mengenal usia, status sosial, atau apapun juga. Lihat aja Shakespare, betapapun Romeo dan Juliet menghadapi tantangan keras keluarga, mereka tetap bersikeras ingin bersatu. Mereka rela berkorban. Dan, kamu baca juga deh tentang kisah Sangkuriang….”

Belum selesai Alend bicara Imul sudah memotong. Imul menyadari kalau Alend akan bicara berkepanjangan membahas hal sekecil apapun. Ia menderita sindrom baca buku.

“Nah, apa hubungannya Sangkuriang sama Shakespare ?” protes Imul.

“Itu dia kesalahanmu. Tidak mau bercermin ke masa lalu. Maksudku, perasaan agungnya cinta serta hasrat untuk saling memiliki adalah karma yang tak bisa dengan begitu saja seseorang menolaknya. Bahkan kita harus punya keberanian lebih untuk bisa mengahapus garis darah sendiri. Kalau perlu bunuh diri. Mengerti…..!?!”

Kemudian suara Alend semakin sesak menerobos paksa masuk pada lobang telinga Imul. Suara itu bagai ribuan desing peluru yang ditembakkan dari senapan laras panjang pada sebuah perang saudara. Kemudian peluru itu terbang menghujan bagaikan jutaan Tawon di udara. Bising sekali. Saking kerasnya suara itu, tak terdengar lagi oleh telinganya. Imul sudah pekak. Imul Tuli seketika.

Imul pucat. Terbayang kembali senyum gadis mungil itu di kepalanya. Matanya memandang kosong ke arah pohon-pohon Palm di sekitar lapang Dadaha. Dan di dalam imajinasinya, pohon-pohon itu adalah tiang yang menyangga beratnya langit yang luluh lantak hampir menimpa pada tubuhnya. Ia pun linglung tak berdaya.

Ini terlalu dramatis. Terlampau absurd untuk jadi cerita pendek yang harusnya bisa laku di pasaran. Padahal kisah ini sederhana saja. Cintanya Imul pada Garnita. Cinta pria yang beranjak dewasa kepada gadis yang masih ingusan. Betul !
Dan untuk tidak menjadi klise, tentu saja harus unik penyajiannya. Imul harus mengungkapkannya dengan warna dan citarasa yang berbeda. Meski tak harus mengada-ada. Tapi bagaimana caranya ?

Surat cinta, ya. Imul ingin mengungkapkan perasaannya itu lewat surat saja pada gadis yang untuk pertama kalinya Tuhan mempertemukan dengan dirinya. Ketika dalam sebuah acara sekolahan di kampusnya Garnita. Ia jadi instruktur tamu ketika itu. Memberikan sekedar gambaran dari pengalaman terhadap pandangan kemanusiaan. Dan Imul jatuh cinta pada pandangan pertama. Sial !

Lagi-lagi kalimat basi. Ia ingin hal yang unik sebagai ungkapan perasaannya.. Ia pernah berfikir untuk memberikan sekotak coklat, namun urung dilaksanakan. Terus ingin memberikan sekuntum bunga mawar merah, itupun ia batalkan. Terakhir, ia dapat insprirasi dalam menyatakan perasaannya itu, yakni dengan seekor kecoa. Edan. Untung saja seseorang yang pernah nonton film BETH memperingatkan bahwa itu sudah ada. Ajaib, padahal Imul nonton atau pun dengar ada film seperti itu pun tidak pernah. Dan ia punya kesimpulan, bahwa inilah yang ia namakan sebagai’lalu lintas ide’. Bukan plagiat.

Ia tiba-tiba jadi bodoh. Kalau mengatakannya langsung, ia tak cukup punya keberanian. Ia pengecut. Imul pun mengakuinya. Tapi hanya pada urusan cinta. Tapi tidak untuk hal lainnya.

Ah, Imul hanya takut kalau pada akhirnya nanti keputusan yang keluar dari mulut Garnita adalah sebuah penolakkan. Ia takan siap untuk ditolak. Dulu,
Ia pernah merasakan betapa sakit hatinya ketika Ferty memutuskan tali kasih dengan tanpa alasan jelas. Padahal Imul yakin kalau Ferty juga mencintainya sepenuh hati. Belakangan ia menyadari, bertahun-tahun setelah Ferty menggantungkan kisah itu dengan tak lagi menemuinya. Larangan keluarga telah membuat Ferty begitu tega memutuskan jalinan asmara yang sudah tiga tahun mereka jalani bersama. Alasannya sangat ‘geuleuh’. Soal materi. Picik !

Sebetulnya Garnita tidak begitu istimewa. Ia biasa-biasa saja. Tapi yang membuat Imul mabuk kepayang adalah pada kemisteriusan gadis ini. Baginya, tidak banyak perempuan unik seperti itu. Bahkan sama anehnya dengan diri pribadinya.
Ada banyak kesamaan antara Imul dengan Garnita. Terutama pada diri keduanya yang mempunyai sifat penyayang dan suka bersahabat, namun sangat tertutup bila bicara masalah pribadi. Apalagi keduanya punya hobi merawat binatang berbentuk kucing. Sepele. Dan Imul tahu itu dari seorang kawan Garnita yang bernama Sri. Pelukis tokoh kartun yang tak kurang anehnya karena tak suka pada lelaki yang ganteng-ganteng. Otomatis, makin sukalah Imul pada gadis yang satu ini. Bahkan bintang zodiak keduanya kembar siam. Alias sama: PISCES!.

Malam ini, tepat sudah 13 hari usia pertemuan mereka. Sepasang angka sial bagi mereka yang percaya pada takhayul. Imul gelisah. Demi pada tiap harinya ia isi dengan berbagai mimpi-mimpi dan hayalan dengan gadis pujaannya. Berbagai saran dan tanggapan ia telan dari para sahabatnya yang kasihan atas segala penderitaannya. Ia banyak mendapatkan support, bahkan dari ayahnya sendiri yang selalu mendengarkan dengan setia satu-satunya anak lelaki kesayangannya :

“Jangan pernah tinggalkan Tuhan, nak. Sebab IA takan pernah menelantarkan hambanya yang selalu dekat padaNYA. Dan berdoalah…..”

Begitulah wejangangan ayahnya pada satu kesempatan saat keluarganya berkumpul mengelilingi meja makan malam hari. Memang, tak ada sekat yang menjadi dinding pemisah diantara ayah dan anak ini. Mereka akrab dan bersahabat.
Di hadapan sebuah mesin ketik, Imul tercenung untuk sejenak. Jam sudah menunjukkan pukul setengah sebelas malam. Ia baru saja menunaikan ibadah sholat Isya. Dan kesunyian menyergapnya kembali. Untuk ke sekian kali, rupa Garnita terbayang lagi. Wajahnya yang oriental khas asia menyesaki fikirannya. Lalu merambat pada hatinya yang mulai terasa berdebar-debar.

Perlahan namun pasti, ia hempaskan beban itu lewat tarikan nafas panjang. Kemudian dengan tanpa dikomando, sepuluh jari-jari tangannya menekan tuts mesin ketik dengan irama kegelisahan. Perasaannya tumpah ruah seketika. Ya, hanya itu yang mampu ia lakukan untuk sekedar mengusir sepi dan kerinduannya. Serumpun syair pun lahir.

Sebuah Sajak untuk Garnita

Kekasih, pada kelam hari hujan
Takdir telah mengutuknya
Mengalirkan airmata kerinduan
Bagi perih luka bumi
Dari perut langit mendung
Yang mengandung janin mimpi
Pada tiap tetesannya yang terjatuh

Itulah cintaku,
Debar kata yang terbakar dalam jiwa
Sebagai harap berkepanjangan. Padamu.

Tasikmalaya, 261204-030105-181208