Senin, 31 Agustus 2009

SETITIK EMBUN PAGI

Sketsa: Irvan Mulyadie

“Pak Kyai, sebetulnya, untuk apa kita puasa?”

Pertanyaan itulah yang meluncur terakhir kali dalam sebuah dialog singkat tapi padat di mushala Al-Alit pada detik-detik terakhir di bulan Sàban. Suara-suara dari hadirin yang tadinya galécok menjadi hening seketika. Mata mereka sama-sama tertuju pada lelaki separuh baya di pojok sana. Di barisan paling belakang para peserta pengajian.

Sosok itu adalah Kho Koe Chieng, yang semenjak menikahi janda Sàdiyah menyatakan diri sebagai mualaf. Hal ini terjadi beberapa minggu lalu. Namanya pun dengan rela ia robah sendiri. Terkesan islami. Tapi hal itu ia lakukan tidak untuk mengikuti trend saja. Bukan pula atas tekanan dari pihak mana pun. Ia melakukannya dengan sesadar-sadarnya. Sebab agama ini tak membiarkan siapa pun untuk memaksakan sesuatu kepada orang yang tak mempunyai haknya. Bahkan untuk persoalan keyakinan yang sepenuhnya urusan Hidayah dari Allah Awt.

Memang, merobah nama pada pasca Reformasi ini tak sesulit pada jaman Orba. Dulu, selain prosesnya rumit, berbelit-belit juga biayanya tak bisa dibilang murah. Apalagi bagi WNI yang tadinya berketurunan Tionghoa. Entah kenapa. Meski pun sebenarnya ia lahir dan dibesarkan oleh nenek moyang yang juga terlahir dan telah melahirkan lagi beberapa generasi di negeri yang mempunyai semboyan Bhineka Tungal Ika ini. Memang ironis.

Tapi merobah nama dengan nama yang terkesan Islami seperti yang dilakukan oleh Kho Koe Chieng ternyata menyisakan masalah tersendiri. Padahal sudah jaman reformasi. Contohnya Ahmad, nama yang sekarang disandang oleh Kho Koe Chieng. Beberapa kali ia sempat bermasalah dengan kantor imigrasi saat akan mengurus bisnis di luar negeri. Apalagi sekarang ini negeri kita telah dicap sebagai negara penghasil Teroris. Pokoknya, hal-hal yang berbau muslim pasti akan diselidiki. Kalau tidak dianggap teroris, pasti dianggap teman-temannya teroris. Namun Kho Ahmad ternyata sudah kebal dan terbiasa dengan mata yang selalu memandangnya dengan curiga.

“Coba diulangi pertanyaanya, Kho...eh, Pak Ahmad” Seru Kyai Santri. Mencair-kan suasana yang mulai riuh oleh gumam juga tawa yang tertahan. Dalam segala ketidak fahamannya, Ahmad lantang mengulanginya.
“Untuk apa kita Puasa?”
“Baiklah, saya mengerti. Namun sebelumnya, apa ada di antara hadirin yang mau membantu menjawab pertanyaan ini?”
“Saya, Pak Kyai!” Erik ngacung.
“Silahkan…..”
“Sesuai dengan paparan yang telah disampaikan kyai tadi, saya kira inti puasa adalah untuk ibadah”
“Betul, Nak. Ada yang lain?”
”Menurut saya.....” Cepi menimpal ”.....sebagai pengendali hawa nafsu”
”Ini juga benar”
”Untuk menjaga kesehatan.....” Seru jang Daffi.
”Ya !”
”Supaya kita dapat merasakan penderitaan kaum papa yang tidak setiap hari dapat makan seperti kita” tegas Kang Imam.
”Baik sekali. Masih ada yang ingin menambahkan?” Tanya Kyai.
Semua terdiam dengan mata saling memandang. Berusaha untuk mencari-cari jawaban. Tapi luput. Sekali lagi Kyai Santri mengedarkan tatapannya ke hadirin sebelum akhirnya bicara.
”Bagaimana Pak Ahmad?”
”Jadi, untuk apa kita puasa?”

Ahmad mengulangi pertanyaanya seakan hendak menegaskan kalau ia masih ragu dan masih memilih-milih atas jawaban dari pertanyaan yang pernah diajukannya. Kyai tersenyum penuh arti. Tapi tak lantas membahasnya. Mencoba memilih kalimat yang pas agar mudah dipahami. Sepertinya ia tak ingin terkesan mendikte dan menggurui dalam penyampaian dakwahnya. Bagaimanapun ia ingin mengedepankan ahlak yang baik dalam menyampaikan visi misinya. Sangat berbeda dengan aktivis-aktivis sekarang yang selalu mengangap dirinya radikalis dan menempatkan kekerasan sebagai media dakwahnya.

”Begini saja,.....” Kyai Santri bicara juga ”.....bagi saya, puasa atau lebih tepatnya Shaum adalah untuk mencari kesempatan” Jawaban Kyai tegas.

Hadirin pun terhenyak. Dan mencoba berlari mengejar arah dari pikiran Sang Kyai yang dirasanya sudah agak jauh meninggalkan mereka.

”Maksud Pak Kyai?” Kang Imam ngotot.
”Hmm,....saya beri waktu pada hadirin sekalian untuk mendapatkan jawaban sendiri atas apa yang telah sampaikan barusan. Ya, supaya kita sama-sama mengalami dan memahami arti inti dari puasa tersebut. Pada kuliah subuh besok, kita akan bahas kembali” Tutup Kyai sambil membereskan kitab kuningnya.
***
Akhirnya, bulan Ramadhan tiba dengan gaya langkahnya yang khas. Orang-orang bersukacita meramaikan mesjid dan pusat-pusat perbelanjaan. Sebuah fenomena yang unik. Paradoks sosial antara ritual ibadah keagamaan yang menekankan nilai-nilai kesederhanaan dalam hidup, dengan perilaku masyarakat yang konsumtif.

Tetapi itulah salah satu sebab yang mungkin membuat bulan Ramadhan ini menjadi sangat begitu berarti, spesial. Setidaknya di Indonesia yang baru saja merayakan kemerdekaannya. Dan sekali lagi, di bulan suci ini, mereka sedang berusaha mengusir satu-satunya penjajah abadi. Yakni perang melawan nafsu diri sendiri.

”Bagaimana Saudara-saudara, apakah sudah mendapatkan kesimpulan tentang puasa dan kesempatan itu?” Tanya Kyai membuka pintu jalannya diskusi.

Para hadirin mulai berobah posisi. Rasa kantuk mulai pergi. Sementara di luar, hari mulai beranjak terang.
“Oé, Pak Kyai”
“Ya, silahkan Pak Ahmad”
“Menurut Oé, memang bener kalau puasa itu adalah untuk mencari kesempatan. Ya, Oé kira supaya kita tidak boleh ketahuan oleh orang lain saat kita makan atawa minum di siang hari. Betul, kan?” Kata Ahmad dengan logat khas cinanya.

Sebelum Kyai Santri merespon, ledakan tawa telah menggetarkan satu-satunya mushala yang berada di tengah-tengah permukiman itu. Bagaimanapun, jawaban polos inilah yang menjadi pemicunya.

”Maksud Engko Ahmad téh, Nyémén?” Tanya Jang Daffi ngaheureuyan. Sementara yang lain masih belum meredakan tertawanya. Bahkan ada pula yang harus ke wc hanya untuk buang air kecil.
”O, nyémén namanya. Oé mah baru nyaho.....”
“Baiklah Hadirin....” Kata Kyai setelah suasana tenang kembali ”Mungkin ada yang punya pandangan berbeda?”
”Saya, Kyai.....” Seru Imam ”.....Jadi puasa itu adalah kesempatan untuk beribadah agar dapat mengendalikan hawa nafsu dan supaya kita mampu merasakan penderitaan fakir miskin.....Juga sehat tentunya”

Kyai tersenyum mendengar jawaban Imam yang seolah mengulang kembali atas jawaban-jawaban yang telah dilontarkan hadirin kemarin. Hanya yang aneh, setelah kedua orang tadi mencoba menjawab, maka tak ada lagi orang yang mengacungkan tangannya. Mungkin mereka ingin cepat-cepat mendengarkan jawaban langsung dari Kyai Santri yang sangat mereka hargai itu.

“Begini Saudara, memang, ibadah puasa selalu memberikan banyak kesempatan kepada kita untuk berbuat lebih baik daripada sebelumnya. Tidak hanya pada persoalan ibadah kita secara vertikal kepada Sang Khaliq. Namun juga sebagai sarana untuk merangsang kepekaan jiwa sosial terhadap saudara-saudara kita yang masih berkekurangan. Pun sangat menyehatkan.
Benar, kesempatan ini tidaklah mudah mendapatkannya. Hanya datang setahun sekali. Itu pun dalam kurun waktu sebulan saja. Ramadhan, ya, bulan yang penuh hikmah. Hanya yang saya tidak selalu mengerti adalah, justeru kesempatan ini tidak banyak dipergunakan dengan baik. Sehingga puasa yang kita lakukan hanya mendapat lapar serta dahaga saja.
Kesempatan adalah waktu, sedangkan waktu adalah takaran hidup. Nah, dalam ibadah puasa inilah sejatinya kita berada dalam kawah candradimuka yang sarat cobaan dan godaan. Memang benar setan telah dikurung. Tapi hawa nafsu tidak. Tetap saja berkeliaran dengan bebasnya. Dan kita sendiri yang senantiasa harus mengendalikannya dengan segala daya upaya.
Sayang, banyak orang yang keliru menyikapi kesempatan tadi. Apalagi menjelang Lebaran tiba. Berlebih-lebihan, itulah kesan yang selalu saya tangkap. Maka tak heran jika korupsi malah lebih meningkat di bulan yang suci ini. Tidak hanya di jajaran birokrasi pemerintahan saja, bahkan di lembaga-lembaga keagamaan. Lihat saja, setiap tahun zakat fitrah berlumbung-lumbung. Belum infak shadaqah lainnya. Tapi kemiskinan tetap saja tak terentaskan. Ini aneh.
Suap menyuap kian menggila, baik melalui parcel atau pun bentuk hadiah lainnya. Bahkan dengan kedok THR. Lalu apa artinya dengan puasa - menahan nafsu - kalau yang terjadi seperti itu?”

Kho Ahmad manggut-manggut dengan hati yang kian terbuka. Matanya berbinar-binar menangkap kesan yang mendalam. Begitu pun hadirin yang lain. Sepertinya mereka baru sadar akan apa yang telah terjadi di sekitar mereka. Begitu dekat. Yang tadinya dianggap baik ternyata tidak sebagus kenyataannya. Ada setitik kepedihan yang dirasakan Kyai Santri dan kini telah meresap pada sekalian jiwa para hadirin.

Di luar, hari sudah semakin terang. Shubuh yang penuh hikmah berlalu pelan dengan menyisakan setitik jejak pengharapan. Semoga amal ibadah kita di bulan Ramadhan ini benar-benar diterima dengan meraih kemenangan besar di penghujungnya. Marhaban Yaa Ramadhan.......!!!

Nagin, 1 Ramadhan 1430 H


(DIMUAT PERTAMAKALI DI LEMBAR BUDAYA HARIAN RADAR TASIK, 30 AGUSTUS 2009)

Rabu, 19 Agustus 2009

BENDERA KERTAS

Cerpen : Irvan Mulyadie

Pagi menggeliat dengan caranya yang selalu menakjubkan. Matahari terbit, kabut malam perlahan memudar, embun menetes di ujung pucuk dedaunan, dan tentunya kehidupan yang berangsur-angsur mulai berjalan dengan raungan kendaraan dan mesin pabrik.

Di sebuah kota yang terus membangun, seorang anak gelandangan tergolek layu di trotoar emper pertokoan. Nampaknya ia masih terlelap dalam tidurnya yang selalu saja terganggu oleh cuaca. Kemarau yang dingin tapi gersang. Sekering hatinya yang kian miskin kasih sayang. Namanya, Min.

“Bangun,……bangun !” suara seseorang membahana.

Tapi Min, anak perempuan berusia sebelas tahun ini tak lantas bisa membuka matanya demi mendengar seruan itu. Malah suara-suara tersebut melarutkan dirinya semakin dalam pada mimpi-mimpi anehnya. Tapi sangat sederhana :

Min berlari dengan senyum yang mengembang. Di belakang, kawan-kawannya juga berlarian mengikuti sembari bercanda ria satu sama lain. Dan tiba di sebuah lapangan rumput yang sangat luas. Bahkan ia tak mampu menerka dimana ujung lapangan datar ini. Mereka sampai di tengahnya yang hanya ditandai dengan sebuah tiang bendera yang tegak berdiri sangat tinggi.

Sejenak Min tertegun. Ia menengadahkan wajahnya ke atas untuk mengukur. Tapi luput. Ia melihat tiang bendera yang lurus itu mencapai awan-awan di langit sana. Sedang pada puncaknya berkibar bendera merah putih yang nampak mungil.

”Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya, untuk Indonesia raya......”

Penuh semangat Min bernyanyi dengan khidmat. Tapi tiba-tiba ia sadar. Ia melihat begitu banyak perbedaan antara dirinya dengan anak-anak lain di sampingnya. Mereka berseragam sekolah, sedangkan Min masih mengenakan baju kumalnya. Mereka bersepatu yang bagus-bagus, sementara Min hanya mengenakan sendal jepit yang satu dengan lainnya berbeda warna serta ukuran. Bahkan lagu yang mereka nyanyikan, tak sepenuhnya ia hapal.

Min mulai merasa malu sendiri. Tapi sang guru dan murid-muridnya seakan tak peduli dengannya. Mereka masih asyik dengan nyanyian kebangsaan itu. Min beringsut dalam barisan dengan hatinya yang sakit. Dan ia mulai menangis.

Min surut ke belakang, mundur, mundur lagi. Semakin jauh. Jauh sekali hingga ia tak lagi dapat mendengarkan nyanyian-nyanyian itu. Tak lagi melihat barisan kawan-kawannya. Min gelisah. Hanya bendera mungil di langit sana yang masih dapat ia saksikan. Tapi nampak hanya sebagai noda hitam di angkasa. Hujan pun turun dengan derasnya.

Min bergerak dalam tidurnya yang mulai resah. Sesuatu yang dingin menerpa wajah dan tubuhnya. Antara sadar dan tidak, Min membuka matanya. Ia mencoba untuk terjaga. Sementara itu, rambut dan tubuhnya basah kuyup oleh teh pahit yang mengucur dari botol air mineral di tangan Pak Ronggeng.

Dan yang pertama kali ia lihat adalah sosok lelaki kerempeng dengan tampilan yang bengis. Pak Ronggeng jongkok dengan seringai giginya yang karatan. Matanya dipelotot-pelototkan seperti biasa untuk menakut-nakuti setiap anak gelandangan yang telah jadi budak asuhnya. Pengemis-pengemis cilik yang tak berdaya. Tentu saja Min gentar.


”Min, sayang. Sekarang waktunya untuk kerja, mengerti....?!”

Bahasa Pak Ronggeng lembut, tapi sarat ancaman. Min bangkit, sebuah kaleng dijatuhkan ke pangkuannya dengan beberapa uang logam sebagai umpan belas kasihan. Suaranya berderak, gemerincing, dan senyaring perut lapar Min yang keroncongan.

”I...ya, pak” Jawab Min gugup.

***

Kota Besar pada bulan Agustus ini, tampak lebih semarak dari biasanya. Umbul-umbul warna-warni anggun berderet di sepanjang sisi jalan. Gapura-gapura kecil bermunculan di setiap mulut-mulut gang. Berikut pula dengan spanduk dan baligho yang besar-besar dengan tulisan “Dirgahayu Republik Indonesia Ke-64” seakan-akan memenuhi setiap ruang publik di manapun juga.

Namun bagi Min, keceriaan wajah kota seakan tak berarti apa-apa. Bahkan mungkin karena ia merasakan kehadirannya memang dianggap sebagai noda yang mencemarkan. Ia hanya anak gelandangan yang tak pernah tahu asal-usul hidup dan kedua orang tuanya. Yang Min fahami bahwa dirinya diurus alakadarnya oleh Pak Ronggeng sejak kecil. Meski tak secuil kisah pun cerita yang muncul tentang dirinya. Ia tak berani bertanya.

Tugasnya hanya satu. Yakni mengemis dan menyetorkan uang yang ia dapatkan setiap tengah hari dan menjelang senja. Sebagai upah, ia harus puas dengan sebungkus nasi setiap kali setelah menyetor uangnya. Itu pun kalau Pak Ronggeng merasa puas. Tapi kalau kurang dari satu kaleng uang logam, maka terpaksa ia harus memungut sisa makanan di tong sampah.

Tak pernah sedikit pun ada niat di hati Min untuk menggelapkan uang hasil mengemisnya. Selain karena ia tak bisa menghitung, karena ia pun takut resikonya. Pernah suatu kali ia dipukuli kakinya dengan kaleng yang biasa ia bawa hingga pincang. Gara-garanya sepele saja. Ia membelikan sedikit uang itu guna membeli eskrim yang paling murah. Ia ingin sekali mencicipi makanan tersebut karena nampak sangat lezat bila melihat anak-anak orang kaya yang ditemuinya sedang menjilatinya.

Namun ajaib, setelah kakinya pincang justeru Min menjadi mesin pencetak uang yang paling baik. Setidaknya itu yang dirasakan Pak Ronggeng. Dengan tubuh yang cacat, orang-orang akan merasa lebih kasihan padanya. Persetan dengan moral. Min harus lebih memberi keuntungan sebagai pengganti uang tebusan ketika setiap kali ia tergaruk oleh gerakan pembersihan Gepeng yang dilakukan pemerintah setempat. Meski sebenarnya ia tak pernah merasa rugi sedikit pun. Bahwa kini, Pak Ronggeng telah menikmati kekayaan dari darah dan keringat Min dan kawan-kawan setelah beberapa tahun lalu mereka dibeli dari beberapa oknum pengurus panti asuhan dan orang miskin yang kesusahan, itu sudah bukan lagi masalah.

Begitulah hidup Min. Satu dari sekian ribu anak yang kurang beruntung dalam hidupnya. Bahkan pada hari-hari besar kenegaraan seperti sekarang. Kemerdekaan baginya adalah aneka mimpi indah yang selalu mengganggunya setiap malam. Begitu rapuh, layaknya lembar bendera kertas yang berkibar di tengah hujan.

Sebagai anak yang terlantar, sekarang Min masih mengemis. Tentu saja dengan tanpa perlindungan dari negara yang sudah seharusnya memelihara.....

Nagin, 2 Agustus 2009

Cerpen ini pertamakali dimuat di Harian Radar Tasikmalaya, 16 Agustus 2009