
Pagi menggeliat dengan caranya yang selalu menakjubkan. Matahari terbit, kabut malam perlahan memudar, embun menetes di ujung pucuk dedaunan, dan tentunya kehidupan yang berangsur-angsur mulai berjalan dengan raungan kendaraan dan mesin pabrik.
Di sebuah kota yang terus membangun, seorang anak gelandangan tergolek layu di trotoar emper pertokoan. Nampaknya ia masih terlelap dalam tidurnya yang selalu saja terganggu oleh cuaca. Kemarau yang dingin tapi gersang. Sekering hatinya yang kian miskin kasih sayang. Namanya, Min.
“Bangun,……bangun !” suara seseorang membahana.
Tapi Min, anak perempuan berusia sebelas tahun ini tak lantas bisa membuka matanya demi mendengar seruan itu. Malah suara-suara tersebut melarutkan dirinya semakin dalam pada mimpi-mimpi anehnya. Tapi sangat sederhana :
Min berlari dengan senyum yang mengembang. Di belakang, kawan-kawannya juga berlarian mengikuti sembari bercanda ria satu sama lain. Dan tiba di sebuah lapangan rumput yang sangat luas. Bahkan ia tak mampu menerka dimana ujung lapangan datar ini. Mereka sampai di tengahnya yang hanya ditandai dengan sebuah tiang bendera yang tegak berdiri sangat tinggi.
Sejenak Min tertegun. Ia menengadahkan wajahnya ke atas untuk mengukur. Tapi luput. Ia melihat tiang bendera yang lurus itu mencapai awan-awan di langit sana. Sedang pada puncaknya berkibar bendera merah putih yang nampak mungil.
”Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya, untuk Indonesia raya......”
Penuh semangat Min bernyanyi dengan khidmat. Tapi tiba-tiba ia sadar. Ia melihat begitu banyak perbedaan antara dirinya dengan anak-anak lain di sampingnya. Mereka berseragam sekolah, sedangkan Min masih mengenakan baju kumalnya. Mereka bersepatu yang bagus-bagus, sementara Min hanya mengenakan sendal jepit yang satu dengan lainnya berbeda warna serta ukuran. Bahkan lagu yang mereka nyanyikan, tak sepenuhnya ia hapal.
Min mulai merasa malu sendiri. Tapi sang guru dan murid-muridnya seakan tak peduli dengannya. Mereka masih asyik dengan nyanyian kebangsaan itu. Min beringsut dalam barisan dengan hatinya yang sakit. Dan ia mulai menangis.
Min surut ke belakang, mundur, mundur lagi. Semakin jauh. Jauh sekali hingga ia tak lagi dapat mendengarkan nyanyian-nyanyian itu. Tak lagi melihat barisan kawan-kawannya. Min gelisah. Hanya bendera mungil di langit sana yang masih dapat ia saksikan. Tapi nampak hanya sebagai noda hitam di angkasa. Hujan pun turun dengan derasnya.
Min bergerak dalam tidurnya yang mulai resah. Sesuatu yang dingin menerpa wajah dan tubuhnya. Antara sadar dan tidak, Min membuka matanya. Ia mencoba untuk terjaga. Sementara itu, rambut dan tubuhnya basah kuyup oleh teh pahit yang mengucur dari botol air mineral di tangan Pak Ronggeng.
Dan yang pertama kali ia lihat adalah sosok lelaki kerempeng dengan tampilan yang bengis. Pak Ronggeng jongkok dengan seringai giginya yang karatan. Matanya dipelotot-pelototkan seperti biasa untuk menakut-nakuti setiap anak gelandangan yang telah jadi budak asuhnya. Pengemis-pengemis cilik yang tak berdaya. Tentu saja Min gentar.
”Min, sayang. Sekarang waktunya untuk kerja, mengerti....?!”
Bahasa Pak Ronggeng lembut, tapi sarat ancaman. Min bangkit, sebuah kaleng dijatuhkan ke pangkuannya dengan beberapa uang logam sebagai umpan belas kasihan. Suaranya berderak, gemerincing, dan senyaring perut lapar Min yang keroncongan.
”I...ya, pak” Jawab Min gugup.
***
Kota Besar pada bulan Agustus ini, tampak lebih semarak dari biasanya. Umbul-umbul warna-warni anggun berderet di sepanjang sisi jalan. Gapura-gapura kecil bermunculan di setiap mulut-mulut gang. Berikut pula dengan spanduk dan baligho yang besar-besar dengan tulisan “Dirgahayu Republik Indonesia Ke-64” seakan-akan memenuhi setiap ruang publik di manapun juga.
Namun bagi Min, keceriaan wajah kota seakan tak berarti apa-apa. Bahkan mungkin karena ia merasakan kehadirannya memang dianggap sebagai noda yang mencemarkan. Ia hanya anak gelandangan yang tak pernah tahu asal-usul hidup dan kedua orang tuanya. Yang Min fahami bahwa dirinya diurus alakadarnya oleh Pak Ronggeng sejak kecil. Meski tak secuil kisah pun cerita yang muncul tentang dirinya. Ia tak berani bertanya.
Tugasnya hanya satu. Yakni mengemis dan menyetorkan uang yang ia dapatkan setiap tengah hari dan menjelang senja. Sebagai upah, ia harus puas dengan sebungkus nasi setiap kali setelah menyetor uangnya. Itu pun kalau Pak Ronggeng merasa puas. Tapi kalau kurang dari satu kaleng uang logam, maka terpaksa ia harus memungut sisa makanan di tong sampah.
Tak pernah sedikit pun ada niat di hati Min untuk menggelapkan uang hasil mengemisnya. Selain karena ia tak bisa menghitung, karena ia pun takut resikonya. Pernah suatu kali ia dipukuli kakinya dengan kaleng yang biasa ia bawa hingga pincang. Gara-garanya sepele saja. Ia membelikan sedikit uang itu guna membeli eskrim yang paling murah. Ia ingin sekali mencicipi makanan tersebut karena nampak sangat lezat bila melihat anak-anak orang kaya yang ditemuinya sedang menjilatinya.
Namun ajaib, setelah kakinya pincang justeru Min menjadi mesin pencetak uang yang paling baik. Setidaknya itu yang dirasakan Pak Ronggeng. Dengan tubuh yang cacat, orang-orang akan merasa lebih kasihan padanya. Persetan dengan moral. Min harus lebih memberi keuntungan sebagai pengganti uang tebusan ketika setiap kali ia tergaruk oleh gerakan pembersihan Gepeng yang dilakukan pemerintah setempat. Meski sebenarnya ia tak pernah merasa rugi sedikit pun. Bahwa kini, Pak Ronggeng telah menikmati kekayaan dari darah dan keringat Min dan kawan-kawan setelah beberapa tahun lalu mereka dibeli dari beberapa oknum pengurus panti asuhan dan orang miskin yang kesusahan, itu sudah bukan lagi masalah.
Begitulah hidup Min. Satu dari sekian ribu anak yang kurang beruntung dalam hidupnya. Bahkan pada hari-hari besar kenegaraan seperti sekarang. Kemerdekaan baginya adalah aneka mimpi indah yang selalu mengganggunya setiap malam. Begitu rapuh, layaknya lembar bendera kertas yang berkibar di tengah hujan.
Sebagai anak yang terlantar, sekarang Min masih mengemis. Tentu saja dengan tanpa perlindungan dari negara yang sudah seharusnya memelihara.....
Nagin, 2 Agustus 2009
Cerpen ini pertamakali dimuat di Harian Radar Tasikmalaya, 16 Agustus 2009


Tidak ada komentar:
Posting Komentar